Membaca judul tulisan baru saya ini membuat saya menahan tawa, karena saya sering menjadikan judul ini untuk menggoda sahabat saya. Ini adalah kisah nyata dari seorang sahabat saya yang sudah seperti kakak saya sendiri. Banyak hal baik yang saya ambil dari dirinya. Salah satunya adalah ia adalah orang yang suka membantu orang lain. Termasuk saya. Dapat membantu orang keluar dari masalah adalah kebahagiaan tersendiri baginya.
Kisahnya ini bermula ketika teman-temannya membutuhkan bantuannya. Seorang temannya terlilit utang, rumahnya akan disita dan terus dikejar-kejar oleh debt collector. Seorang teman lainnya juga dalam kesulitan, datang meminta bantuan karena suaminya ditahan dan harus ditebus dengan sejumlah uang. Sebagai orang yang suka membantu, tentu saja ia langsung ingin menolong. Namun disini masalahnya. Saat ia meminta persetujuan istrinya, istrinya menolak, karena jumlah uang yang diminta tidak tergolong sedikit. Tetapi hatinya tetap ingin membantu teman-temannya tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk membantu secara diam-diam tanpa memberitahu istrinya. Setelah membantu teman-temannya tersebut, datang masalah baru, ia dilanda oleh dilema batin. Ia merasa bersalah telah membohongi istrinya. Tetapi jika diberitahukan pun istrinya tetap menolak sementara teman-temannya harus dibantu.
Saat ia menceritakan hal ini kepada saya, jujur, saya sendiri meskipun belum menikah namun pernah merasakan hal ini. Seringkali papa dan mama saya bertengkar karena papa saya meminjamkan uang kepada orang, kemudian mama saya yang harus menagih karena sifat papa saya yang sungkan. Saya sendiri awalnya tidak setuju dengan papa saya yang meminjamkan orang uang. Lebih baik uang tersebut diberikan kepada saya dan adik-adik saya. Ini lah yang saya sadari sebagai sifat egois. Uang tersebut adalah hasil jerih payah papa saya yang bahkan bukan dari keringat saya. Papa saya memiliki hati yang kurang lebih sama seperti sahabat saya ini. Tidak tegaan terhadap orang-orang yang membutuhkan bantuan. Meskipun karakter papa saya keras, namun hatinya sangat baik.
Kembali ke cerita sahabat saya tadi, saya lalu menjawab "Seharusnya sebelum bertindak mikir dulu, apalagi masalah uang, lihat juga apakah benar-benar butuh dan memang harus dibantu." Tetapi ia hanya menjawab "Benar-benar butuh". Jawaban ini cukup meyakinkan saya bahwa ia sudah memiliki pertimbangan yang matang bahwa tindakannya betul meskipun kemudian ada rasa bersalah pada istrinya.
Dalam kasus seperti ini, sering terjadi pergulatan antara hati nurani dan pikiran. Saat hati nurani ingin membantu, pikiran mengarahkan kita pada beberapa kemungkinan. "Mungkin kalau dibantu, saya akan kehilangan uang yang saya peroleh dengan susah payah" "Mungkin dia sekedar memanfaatkan kebaikan hati saya" "Mungkin istri saya akan marah besar kalau saya membantu". Di sini lah keseimbangan hati nurani dan pikiran kita diuji. Membantu orang lain adalah kewajiban. Meskipun tidak mampu membantu dengan uang, paling tidak kita ikut membantu mencari jalan keluar.
Saya pernah membaca kisah Ajahn Brahm tentang "Perangkap Tikus", kisah ini mengajarkan bagaimana masalah orang lain terkadang malah bisa menjadi masalah kita jika kita tidak peka. Sebagai ciptaan Tuhan, kita berada dalam jalan yang sama, baiknya kita saling menolong satu sama lain, meskipun kita tidak tahu bagaimana berakibat pada kita. Jangan pernah berpikir "Ini masalah saya, itu masalah dia". Bagian yang indah dalam proses ini adalah bagaimana kita bekerja sama dan berbagi dengan orang lain. Kita semua manusia berada pada satu tujuan yang sama, kematian. Hidup di dunia ini hanya sementara. Bagaimana kita memanfaatkan waktu kita yang bahkan kita tidak tahu kapan akan berakhir.
Jika Anda di posisi sahabat saya ini, apakah Anda cukup memiliki jiwa besar untuk melakukan hal yang sama? Atau Anda memiliki pemikiran yang berbeda? Dengarkan hati nurani Anda dengan bijak :)

No comments:
Post a Comment