Saturday, 17 August 2013

Lebih Baik Menyalakan Lilin


Terkadang tanpa kita sadari, kita sendiri yang menyesatkan diri ke dalam kegelapan. Tetapi hanya diri kita juga yang pada akhirnya dapat membawa diri keluar dari kegelapan. Kita sering melakukan kesalahan namun terlalu gengsi untuk mengakui kesalahan tersebut kemudian hidup dalam penyesalan. Atau sekali kita dikecewakan orang, sulit bagi kita untuk memaafkan. 

Sering kali kita terlalu memusatkan perhatian pada kesalahan entah itu kesalahan kita sendiri atau orang lain. Kemudian membiarkan hal tersebut menjadi seperti penyakit yang menggerogoti kehidupan kita. Ada sebuah pepatah yang mengatakan "Daripada mengeluh dalam kegelapan, lebih baik menyalakan lilin". Daripada kita mengeluh akan kesalahan orang lain atau kesalahan kita sendiri, lebih baik kita melihat sisi positif dari semua hal, kemudian belajar untuk mengampuni diri kita sendiri dan mengampuni orang lain untuk hidup yang lebih baik. Namun bagaimana besar hati kita untuk memberikan pengampunan total, itu lah yang akan membebaskan diri kita dari kegelapan. 

Jika berbuat salah, akuilah kesalahan itu, minta maaf dan belajar lah dari kesalahan itu. Sebaliknya, jika ada orang yang berbuat salah pada kita, maafkan lah dengan sepenuh hati. Setiap orang wajib memberikan pengampunan dan setiap orang berhak mendapatkan pengampunan. Jika memang orang tersebut tidak cukup berjiwa besar untuk memaafkanmu, tidak perlu dendam, tidak perlu kecewa, yang terpenting adalah kita telah memiliki niat baik dan itu lebih dari cukup. :)

Friday, 16 August 2013

Dilema Batin Seorang Sahabat


Membaca judul tulisan baru saya ini membuat saya menahan tawa, karena saya sering menjadikan judul ini untuk menggoda sahabat saya. Ini adalah kisah nyata dari seorang sahabat saya yang sudah seperti kakak saya sendiri. Banyak hal baik yang saya ambil dari dirinya. Salah satunya adalah ia adalah orang yang suka membantu orang lain. Termasuk saya. Dapat membantu orang keluar dari masalah adalah kebahagiaan tersendiri baginya.

Kisahnya ini bermula ketika teman-temannya membutuhkan bantuannya. Seorang temannya terlilit utang, rumahnya akan disita dan terus dikejar-kejar oleh debt collector. Seorang teman lainnya juga dalam kesulitan, datang meminta bantuan karena suaminya ditahan dan harus ditebus dengan sejumlah uang. Sebagai orang yang suka membantu, tentu saja ia langsung ingin menolong. Namun disini masalahnya. Saat ia meminta persetujuan istrinya, istrinya menolak, karena jumlah uang yang diminta tidak tergolong sedikit. Tetapi hatinya tetap ingin membantu teman-temannya tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk membantu secara diam-diam tanpa memberitahu istrinya. Setelah membantu teman-temannya tersebut, datang masalah baru, ia dilanda oleh dilema batin. Ia merasa bersalah telah membohongi istrinya. Tetapi jika diberitahukan pun istrinya tetap menolak sementara teman-temannya harus dibantu.

Saat ia menceritakan hal ini kepada saya, jujur, saya sendiri meskipun belum menikah namun pernah merasakan hal ini. Seringkali papa dan mama saya bertengkar karena papa saya meminjamkan uang kepada orang, kemudian mama saya yang harus menagih karena sifat papa saya yang sungkan. Saya sendiri awalnya tidak setuju dengan papa saya yang meminjamkan orang uang. Lebih baik uang tersebut diberikan kepada saya dan adik-adik saya. Ini lah yang saya sadari sebagai sifat egois. Uang tersebut adalah hasil jerih payah papa saya yang bahkan bukan dari keringat saya. Papa saya memiliki hati yang kurang lebih sama seperti sahabat saya ini. Tidak tegaan terhadap orang-orang yang membutuhkan bantuan. Meskipun karakter papa saya keras, namun hatinya sangat baik. 

Kembali ke cerita sahabat saya tadi, saya lalu menjawab "Seharusnya sebelum bertindak mikir dulu, apalagi masalah uang, lihat juga apakah benar-benar butuh dan memang harus dibantu." Tetapi ia hanya menjawab "Benar-benar butuh". Jawaban ini cukup meyakinkan saya bahwa ia sudah memiliki pertimbangan yang matang bahwa tindakannya betul meskipun kemudian ada rasa bersalah pada istrinya.

Dalam kasus seperti ini, sering terjadi pergulatan antara hati nurani dan pikiran. Saat hati nurani ingin membantu, pikiran mengarahkan kita pada beberapa kemungkinan. "Mungkin kalau dibantu, saya akan kehilangan uang yang saya peroleh dengan susah payah" "Mungkin dia sekedar memanfaatkan kebaikan hati saya" "Mungkin istri saya akan marah besar kalau saya membantu". Di sini lah keseimbangan hati nurani dan pikiran kita diuji. Membantu orang lain adalah kewajiban. Meskipun tidak mampu membantu dengan uang, paling tidak kita ikut membantu mencari jalan keluar.

Saya pernah membaca kisah Ajahn Brahm tentang "Perangkap Tikus", kisah ini mengajarkan bagaimana masalah orang lain terkadang malah bisa menjadi masalah kita jika kita tidak peka. Sebagai ciptaan Tuhan, kita berada dalam jalan yang sama, baiknya kita saling menolong satu sama lain, meskipun kita tidak tahu bagaimana berakibat pada kita. Jangan pernah berpikir "Ini masalah saya, itu masalah dia". Bagian yang indah dalam proses ini adalah bagaimana kita bekerja sama dan berbagi dengan orang lain. Kita semua manusia berada pada satu tujuan yang sama, kematian. Hidup di dunia ini hanya sementara. Bagaimana kita memanfaatkan waktu kita yang bahkan kita tidak tahu kapan akan berakhir.

Jika Anda di posisi sahabat saya ini, apakah Anda cukup memiliki jiwa besar untuk melakukan hal yang sama? Atau Anda memiliki pemikiran yang berbeda? Dengarkan hati nurani Anda dengan bijak :)


Musim Gugur


Siang ini saya mengendarai mobil melewati kawasan Dharmahusada, matahari begitu terik dan banyak sekali daun kering berguguran di jalan. Pemandangan ini membuat saya seakan merasakan bagaimana panasnya cuaca di luar. Saya pikir mungkin karena petugas kebersihannya masih pada mudik jadi tidak ada yang membersihkan daun-daun tersebut. Namun setelah saya amati, ternyata pohon-pohon sepanjang jalan tersebut memang sedang menggugurkan diri. Beberapa tunas hijau sudah siap untuk tumbuh menggantikan daun-daun kering tersebut.

Sejenak saya berpikir, ini seperti yang dialami dalam hidup. Terkadang kita layaknya pohon-pohon yang gugur di musim panas. Ketidaknyamanan dengan cuaca panas tersebut seperti hidup dalam ketidaknyamanan hati karena hal-hal buruk yang dialami. Namun dalam ketidaknyamanan tersebut, kita layaknya pohon, 'menggugurkan' hal-hal buruk dari diri kita untuk menggantikannya dengan hal yang baru yang lebih indah. Mungkin terasa tidak nyaman, namun setelah ini berlalu, akan tumbuh tunas baru yang menyejukkan mata dan hati. 

Jika sedang berada dalam masalah yang membuat hati merasa tidak nyaman, anggap saja sedang berada dalam musim gugur. Dalam keadaan ini, cobalah menjadi seperti pohon, menggugurkan daun-daun kering. Intropeksi akan kesalahan apa yang telah kita perbuat yang kurang baik, 'menggugurkan' berbagai hal buruk dari dalam diri kita seperti daun-daun kering. Kemudian menggantikannya dengan hal-hal yang lebih baik. Better Days are Coming :)

Thursday, 15 August 2013

Create Your Own Happiness


Bahagia? Apa itu bahagia? Setiap orang memiliki gagasan tersendiri mengenai bagaimana ia mencapai kebahagian. Ada yang bahagia jika naik pangkat, mendapatkan uang, belanja, jalan-jalan, makan enak, dan lain sebagainya. Bukan hanya materi, ada juga yang bahagia dengan situasi hati, cukup berada dengan orang yang kita sayangi, kita bisa merasa bahagia.

Terkadang tanpa kita sadari, diri kita terjebak dalam cara bahagia orang lain. Kita melihat mereka sepertinya bahagia, bersenang-senang dengan cara mereka. Saya pun sering terjebak dengan hal ini. Saya melihat gadis lain berbelanja, rasanya menyenangkan. Maka saya pun demikian, membeli baju-baju, tas, sepatu, berbagai asesoris, yang bahkan beberapa di antaranya tidak pernah saya kenakan. Membuang uang untuk hal yang sebenarnya tidak saya butuhkan. Tapi saat membeli (meskipun saya tau sebenarnya saya tidak butuh) saya merasa bersenang-senang, menghilangkan stress.

Ada juga teman saya yang bersenang-senang dengan minum-minuman keras. Suatu ketika saya pernah diajak minum. Saya melihat orang-orang yang minum minuman keras begitu menikmati, bersenang-senang. Saya pun mencoba (meski pun sebelumnya saya pernah minum minuman keras dan rasanya Yuck! Pahit!). Tapi saya tetap mencoba, berharap dapat bersenang-senang, menikmati minuman, sekaligus berharap rasanya tidak sepahit minuman keras yang biasa saya minum. Tapi namanya minuman keras, tetap saja pahit. Saya memaksakan diri menahan sensasi pahit di lidah saya berharap bisa menikmati minuman tersebut. Apa boleh dikata, saya mabuk! Padahal saya hanya meminum seperempat gelas. Kepala saya pusing dan saya berjalan sempoyongan. Saya sama sekali tidak menikmati, malah menanggung rasa takut (takut ketahuan papa saya). Saya berharap itu kali terakhir saya merasakan bagaimana 'mabuk'.

Setelah itu saya tersadar. Semua itu hanya kebahagiaan sesaat. Saat saya mengingat bagaimana saya membuang waktu saya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat yang saya anggap 'bersenang-senang', ada penyesalan. Ini bukan kebahagiaan, hanya kesenangan sesaat. Tapi, saat saya mengingat apa yang pernah saya lakukan yang bermanfaat bagi diri saya bahkan orang lain, saya merasa puas, tidak ada penyesalan. Kasih sayang, perhatian, bantuan, kejujuran, saat saya melakukan hal-hal baik, membuat saya tersenyum mengingatnya. Ini lah gagasan kebahagiaan saya.

Berapa banyak orang yang persepsinya terbelokkan oleh persepsi orang lain mengenai kebahagiaan. Padahal sesungguhnya bahagia ada pada diri kita sendiri. Kita sendiri yang menciptakan dan merasakan, bukan apa yang dirasakan dan dimiliki orang lain. Dari pengalaman-pengalaman itu lah kita akan menemukan apa sesungguhnya kebahagiaan. Don't look for happiness, but create your own happiness. Wisely.

Ember Terbuka atau Ember Terbalik?



Upaya untuk memperbaiki diri itu ibaratnya sebuah ember. Ember yang terbuka, apabila diisi air maka akan penuh. Jika tidak kita isi namun diletakkan di tempat terbuka, saat hujan turun, maka ember itu akan terisi dengan sendirinya. Namun apabila ember tersebut kita balik sehingga tertutup ke bawah, maka tidak akan bisa diisi air. Sekali pun dibiarkan di tempat terbuka, ember tersebut tidak akan bisa menampung air.

Ini lah yang terjadi dengan pikiran kita. Jika kita mau membuka pikiran kita, apalagi mau mengisi dengan pengetahuan dan pengalaman baik dari orang lain, kita dapat berguna bagi diri kita sendiri, bahkan bagi orang lain. Namun, apabila kita seperti ember terbalik, menutup pikiran kita dari pengetahuan dan pengalaman baik, yang terjadi adalah kosong. Tidak ada yang kita peroleh. Hanya pikiran yang sempit yang pada akhirnya menyesatkan kita. Sekali pun demikian, jangan hanya menerima pengetahuan dan pengalaman begitu saja, kita harus menyeleksi mana yang baik dan mana yang tidak.

Jadi, tentukan pilihan anda, anda ingin menjadi ember terbuka atau ember terbalik.