Jika berbicara mengenai pertelevisian tanah air, Surya Citra Televisi Indonesia atau akrab disebut SCTV tentu sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Kiprahnya sebagai media pertelevisian nasional yang unggul di berbagai program acaranya baik itu tayangan berita, olahraga hingga sinetron sudah tidak diragukan lagi. Oleh karena itu, panitia SE Nasional 2007 memasukkan SCTV dalam daftar kunjungan SE Nasional kali ini.
Pada kunjungan SE hari ke-3, rombongan UK Petra berkesempatan bertandang ke markas SCTV. Di sini awalnya kita disambut oleh PR SCTV Mbak Wida dan Mbak Ririe setelah itu, kita langsung diajak untuk melihat-lihat kantor SCTV. Dan tanpa basa-basi (soalnya uda pada ribut karena kelamaan nunggu) kita langsung diajak ke lantai 12 gedung SCTV di mana di lantai tersebut terdapat ruang sekretariat redaksi Liputan 6, meeting room, news studio control, make up and wardrobe room hingga redaksi pemberitaan dan sebagainya.
Di lantai 12 ini juga merupakan studio dari program-program berita SCTV mulai dari Liputan 6 Pagi, Liputan 6 Siang, Liputan 6 Petang, Buser dan sebagainya. Kita diberi kesempatan untuk melihat-lihat lebih dekat isi studio pemberitaan ini. Bahkan ada beberapa teman saya yang beruntung mencoba menjadi presenter berita dadakan dan praktek langsung membaca berita dari auto-script. Lucunya lagi wajah mereka muncul di layar televisi kecil di studio, jadi serasa jadi penyiar beneran gitu.
Dan untuk memuaskan diri di studio Liputan 6, mahasiswa-mahasiswa sempat berfoto ria dan bergaya ala news presenter (termasuk saya) ;p Setelah puas melihat-lihat studio berita SCTV dan mengetahui seperti apa alat-alat di ruang siaran, kita lantas diajak menuju ruang master control SCTV di lantai 7. Di ruang ini terlihat beberapa staf SCTV sedang mengawasi jalannya tayangan SCTV agar berjalan dengan lancar (tayangan sinetron tepat pada jamnya, waktu untuk iklan, de el el). Sayangnya kita hanya boleh mengambilkan gambar dari luar dan tidak diperbolehkan masuk. Tapi tidak dibayangkan jika kita diperbolehkan masuk dan menyentuh alat-alat kontrol di dalam, mungkin pemirsa SCTV di tanah air bisa melayangkan protes ;p
Usai melihat ruang master kontrol, kita diajak ke lantai dasar dan mendengarkan sekilas penjelasan tentang SCTV oleh Mas Hariyanto selaku PR SCTV, Mas Yudi dari bagian planning (sampai kapan program akan berlangsung), dan Mas Lubi dari bagian scheduling (pengatur jam tayang program) serta mantan presenter Liputan 6, Mbak Nunung, yang saat ini di bidang administator keuangan.
Nah, di sini saya akan berbagi sedikit cerita bagi yang gak tahu dari mana TV seperti SCTV mendapat keuntungan. Pemasukannya dari iklan-iklan. Kalau soal harga, biaya pemasangan iklan pada jeda acara yang ratingnya tinggi akan jauh lebih mahal. Jadi, setiap program di SCTV akan dilihat mana yang ratingnya paling tinggi atau paling banyak ditonton masyarakat.
Rating diketahui dari lembaga rating di Indonesia yaitu AC Nielsen. Jika rating acara tersebut tinggi, artinya yang nonton pun banyak, maka, para pemasang iklan akan berebut memasang iklan pada jeda program tersebut. Tentu saja tidak murah bukan memasang iklan pada acara yang ratingnya tinggi.
Lalu, bagaimana dengan sinetron?? Apakah diproduksi sendiri?? Nah... Untuk sinetron-sinetron, SCTV tidak memproduksi sendiri, melainkan membeli dari rumah-rumah produksi atau beken disebut PH (Production House) seperti Multivision Plus, MD Entertainment, Triwarsana, dan sebagainya. SCTV juga berhak untuk memutuskan jalannya sinetron di tengah-tengah jika ternyata ratingnya jelek dan sebagainya. Namun jika sinetron tersebut laris di pasaran, tidak menutup kemungkinan harga yang dibeli SCTV dari PH akan meningkat.
Saat ini SCTV mengembangkan diri sebagai News Channel. News Channel SCTV yang baru beroperasi sejak September 2007 baru dapat diakses melalui handphone dengan fasilitas 3G dari Telkomsel. SCTV juga saat ini bekerjasama dengan Worldnet menyediakan akses siaran SCTV di luar negeri via internet. So, buat yang tinggal di luar negeri dan tidak ingin ketinggalan berita dari negeri tercinta, dapat mengaksesnya.
Tapi, dari kunjungan ini, yang membuat sedikit miris adalah pernyataan bahwa reality show di SCTV kebanyakan memang sengaja direkayasa untuk menarik minat penonton. Saat ditanya kenapa tidak dibuat nyata malah dijawab bahwa penonton lebih tertarik dengan rekayasa yang dibuat. Apa anda sebagai penonton setuju apabila reality show direkayasa?? Dan apa TV layak menyajikan rekayasa dalam reality show?? Well, back on your opinion.

No comments:
Post a Comment